Berita Dari Cina

I-Tsing

DAHULU beberapa musafir Cina datang ke Indonesia. Mereka berkunjung, berdiam bahkan ada yang menetap hingga belasan tahun. Kebiasaan mereka menuliskan kisah perjalanannya, hal yang cukup banyak membantu dalam penulisan dan penelitian sejarah Asia Tenggara, termasuk di tanah air. Demikian juga dengan Istana Cina. Negeri ini, memiliki kebiasaan mencatat berita kedatangan para utusan dari negeri lain.


Hubungan Cina dengan negeri-negeri di Asia Tenggara di ketahui telah terjalin sejak zaman kuno. Sejumlah peninggalan kronik hampir setiap dinasti mencatat perjalanan para musafir di negeri ini. Peninggalan berupa kramik Cina juga banyak ditemukan di Indonesia. Itu membuktikan hubungan, terutama di bidang agama, politik dan ekonomi telah ada sedari dulu.

Para musafir Cina, yang akan maupun pulang berziarah dari India dengan menggunakan jalan laut, pasti melewati satu atau beberapa negeri di Asia Tenggara. Di lain pihak, kerajaan-kerajaan tersebut sering mengirimkan utusan-utusannya ke Cina sebagai tanda persahabatan maupun meminta pengakuan dari kaisar Cina. Tidak aneh jika dalam kronik-kronik Cina banyak tercantum nama-nama negeri di Asia Tenggara, salah satunya To-La Po-Hwang/To-Lang P’o-Hwang.

Walau demikian, nama-nama tempat (toponimi) yang tertulis dalam bahasa Cina kebanyakan berbeda dengan nama aslinya. Apa yang tertulis, sebagian besar ditulis pengelana/pendeta Cina, namanya tidak tertulis sebagaimana sebutan asli suatu tempat. Pelafalan logat dan perbedaan bahasa serta belum begitu mengenal suatu tempat oleh para musafir, menjadi kendala dalam pencatatan nama tempat-tempat tersebut. Oleh karenanya, nama-nama tempat di Indonesia yang sempat terekam oleh musafir Cina maupun Eropa perlu di identifikasi dengan cermat lalu dilokasikan di mana letaknya. Sudah pasti usaha ini tidak mudah. Identifikasi yang salah mengakibatkan penulisan sejarah yang keliru.

Harus akui, identifikasi yang pernah dilakukan para ilmuwan, baik ahli sejarah hingga arkeologi sumbangan yang sangat berharga bagi penelitian sejarah. Akan tetapi tidak berarti pendapat-pendapat mereka dianggap sudah mutlak dan final. Keberadaan Kerajaan Tulang Bawang pun salah satu sumbernya berasal dari negeri Cina. Tetapi tidak ditulis sebagaimana tulisan sebenarnya. Ditambah kurangnya bukti-bukti pendukung, menyebabkan alur sejarah kerajaan ini terkesan masih kurang jelas.

Didalam berita Cina menyebutkan, Kerajaan Tulang Bawang sebuah kerajaan yang menganut faham Hindu-Budha, sebelum masuknya agama Islam di Lampung. Selain Tulang Bawang, di Indonesia kerajaan yang menganut faham Hindu-Budha ketika itu, diantaranya Kerajaan Holing, Kanjuruhan dan Melayu, sebelum berdirinya Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan Holing dan Kanjuruhan berada di Pulau Jawa. Sedangkan, Kerajaan Tulang Bawang dan Melayu berkedudukan di Pulau Sumatera.

Adanya informasi berasal dari Cina ini menjadi catatan tersendiri bagi keberadaan kerajaan-kerajaan yang menganut faham Hindu-Budha, termasuk Kerajaan Tulang Bawang. Diberitakan di masa Dinasti Tang, di Jawa ada kerajaan bernama Holing (Ho-ling) atau Kaling. Kerajaannya berdiri di daerah Jawa Tengah, dekat Kota Jepara sekarang. Kerajaan itu telah mengenal kesenian dan kerajinan. Penduduknya mampu menghasilkan produk, seperti emas, perak, cula, gading dan minuman dari kelapa.

Sejak tahun 674, Kerajaan Holing dipimpin seorang wanita bernama Ratu Sima. Ia terkenal keras, tegas dan menjunjung tinggi kejujuran. Bahkan, putranya sendiri rela ia potong kaki karena tertuduh mencuri. Kerajaan Holing dikelilingi pagar kayu. Istananya dibuat bertingkat dengan atap dari daun rumbia. Singgasana ratunya terbuat dari gading.

Seorang pengelana, bhiksu Budha Tionghoa I-Tsing (635-713) mengatakan, tahun 664 pendeta Hwining dan pembantunya Yunki pergi ke Holing. Keduanya mempelajari agama Budha di sana. Sehingga mereka mampu menterjemahkan kitab suci dari bahasa Sanskerta ke bahasa Cina. Proses penterjemahan dibantu pendeta Janabhadra dari Kerajaan Holing. Kitab terjemahan Hwining di bagian terakhir dari kitab Varinirvana, mengisahkan tentang pembukaan jenazah Sang Budha.

Selain itu, Pulau Jawa juga terdapat kerajaan tertua di Jawa Timur. Kerajaan Kanjuruhan namanya. Kerajaan ini berdiri sekitar tahun 760 Masehi. Keberadaan Kerajaan Kanjuruhan berhasil diketahui dari Prasasti Dinoyo. Prasasti itu ditemukan di Desa Dinoyo, barat laut Malang. Prasasti Dinoyo, ditulis menggunakan bahasa Sanskerta. Isi prasasti tentang kisah pendirian bangunan suci pemujaan Dewa Agastya. Pendirinya Raja Gajayana, putra Dewasimha. Raja ini mempunyai putri bernama Uttejana. Bangunan sucinya dikenal dengan nama Candi Badut.

Di Pulau Sumatera, Kerajaan Melayu salah satu kerajaan tertua di Pulau Sumatera, di samping Kerajaan Tulang Bawang. Ketika I-Tsing melakukan perjalanan dari Cina ke India, ia pernah singgah di Pulau Jawa dan Sumatera, tepatnya di Kerajaan Melayu. Namun ketika dia bertolak dari India dan singgah di kerajaan ini kembali, kerajaan itupun sudah tidak ada. Karena tahun 692 Masehi telah ditaklukkan Kerajaan Sriwijaya.

Dari kitab sejarah Dinasti Liang diperoleh keterangan, antara tahun 430-475 Masehi beberapa kali utusan dari Ho-lo-tan dan Kan-t’o-li datang ke Cina. Ada juga utusan dari To-Lang Po-Hwang. Kan-t’o-li terletak di suatu pulau di laut selatan. Adat kebiasaannya serupa dengan Kamboja dan Campa. Hasil negerinya, terutama pinang, kapas dan kain berwarna. Sedangkan, dalam kitab sejarah Dinasti Ming disebutkan San-fo-sai dulu disebut pula dengan Kan-t’o-li.

Didalam berita Cina ini, mungkin sama dengan Kendari yang terdapat didalam berita dari Ibnu Majid tahun 1462 Masehi. Sebab, San-fo-tsi dahulu juga disebut Kan-t’o-li. Sedangkan, San-fo-tsi diidentifikasikan dengan Sriwijaya. Ditafsirkan, Kan-t’o-li letaknya di Pulau Sumatera. Pendapat lain menyebut, Kan-to-li di transliterasi dari nama asli “Kenali” di daerah Lampung Barat. Kemudian To-Lang, Po-Hwang disamakan dengan Tulang Bawang.

Di Lampung Barat, disebutkan memang pernah berdiri sebuah kerajaan. Hal itu terbukti dengan ditemukannya Prasasti Hujung Langit di Liwa. Ada yang menyebut prasasti ini Prasasti Hara Kuning, Bunuk Tenuar maupun Bawang. Penyebutan prasasti dengan beberapa nama, diantaranya sesuai dengan bentuk, isi dan lokasi penemuan. Bahkan, isi prasasti dibahas Prof. Dr. Louis–Charles Damais dalam bukunya berjudul “Epigrafi dan Sejarah Nusantara”, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Jakarta, 1995, hal. 26-45. Nama raja yang mengeluarkan prasasti tercantum di baris ke 7. Menurut pembacaan Prof. Damais, nama rajanya Sri Haridewa. Inilah raja di daerah Lampung pertama kali ditemukan pada prasasti.

Melihat lokasinya, boleh jadi prasasti itu ada hubungannya dengan Kerajaan Skala Brak. Barangkali, kerajaan itu sudah ada sejak abad ke 5 Masehi dengan ibukotanya di Kenali, yang disebut Kan-to-li dalam kronik Cina. Namun lain pula halnya menurut Nanang Saptono dari Balai Arkeologi Bandung dengan mengutip Soekmono (1985:49). Nanang menyebutkan, Prasasti Hujung Langit berdasarkan unsur dari penanggalan dan paleografisnya memberi arah dugaan adanya pengaruh kekuasaan Mpu Sindok dan Erlangga.

Bila analisis ini diyakini benar adanya, Prasasti Hujung Langit mengindikasikan keberadaannya berhubungan dengan Kerajaan Kahuripan di Jawa Timur (Jatim). Mpu Sindok, menurut catatan memerintah tahun 929-947 Masehi dan Erlangga (Airlangga) memerintah antara 1028-1035 Masehi. Sepeninggal Airlangga, Kahuripan dibagi menjadi dua, Jenggala dan Kediri (Daha/Panjalu), sebelum kekuasaan beralih ke Singasari (Tumapel) dan kemudian Majapahit.

Dilihat dari akurasi masa pemerintahan Mpu Sindok hingga Erlangga antara 929-1035 Masehi dan Prasasti Hujung Langit tahun 997, beberapa pendapat mengemukakan dugaan Prasasti Hujung Langit berhubungan dengan Kahuripan terdapat perbedaan. Karena tahun dibuatnya prasasti tak sama. Terutama tahun dikeluarkannya batu bertulis ini dengan masa pemerintahan Mpu Sindok sampai Erlangga.

Bersumber dari berita Cina pula pendapat lain menyatakan, waktu itu di wilayah Lampung terdapat kerajaan sezaman. Kerajaan tersebut, masing-masing Tolang dan Powang/To-Lang Po-Hwang (442), Katoli/Kan-to-li/Kenali (441) dan Yeh-Potih/Yeh-po-ti/Seputih (414). Tapi, pendapat ini sepertinya masih hanya berupa dugaan dan perlu penelitian lebih lanjut. Sebab, tidak disertai bukti-bukti fisik yang menguatkan, terutama kepastian tahun berdiri, raja yang memerintah dan sebagainya.

Berita lainnya menyebutkan, tahun 644 telah datang utusan dari negeri Mo-lo-yeu ke Cina dengan membawa hasil bumi sebagai persembahan sekaligus perkenalan. Kerajaan Melayu juga sempat menghilang. Muncul kembali setelah bangkit dan merdeka sebagai sebuah kerajaan di masa Raja Adityawarman abad ke 14 Masehi.Adityawarman keturunan keluarga Majapahit. Sebelum menjadi raja di Melayu, ia sempat menjabat Wredha Menteri (Menteri Tua) semasa pemerintahan Tribhuwanatunggadewi. Dia memiliki gelar Aryadewa Rajapu Aditya. Semasa Raja Adityawarman, Kerajaan Melayu berhasil meluaskan wilayahnya hingga ke Sumatera Barat. Lalu ibukota kerajaan dipindahkan ke Minangkabau. Peninggalan kerajaan, berupa Candi Muara Takus bercorak Budha.

Berikut terjemahan petikan cacatan I-Tsing (671–685) dalam perjalanannya:

“Ketika angin timur laut mulai bertiup, kami berlayar meninggalkan Kanton menuju selatan. Setelah lebih kurang 20 hari berlayar, kami sampai di negeri Sriwijaya. Di sana saya berdiam selama 6 bulan untuk belajar Sabdawidya. Sri Baginda sangat baik kepada saya. Beliau menolong mengirimkan saya ke negeri Malayu, di mana saya singgah selama 2 bulan. Kemudian saya kembali meneruskan pelayaran ke Kedah. Berlayar dari Kedah menuju utara lebih dari 10 hari, kami sampai di Kepulauan Orang Telanjang (Nikobar). Dari sini berlayar ke arah barat laut selama setengah bulan (lk 15 hari), lalu kami sampai di Tamralipti (pantai timur India)” — thn 671, I Tsing.

“Tamralipti adalah tempat kami naik kapal jika akan kembali ke Cina. Berlayar dari sini menuju tenggara, dalam 2 bulan kami sampai di Kedah. Tempat ini sekarang menjadi kepunyaan Sriwijaya. Saat kapal tiba adalah bulan pertama atau kedua. Kami tinggal di Kedah sampai musim dingin, lalu naik kapal ke arah selatan. Setelah kira-kira 1 bulan, kami sampai di negeri Malayu, yang sekarang menjadi bagian Sriwijaya. Kapal-kapal umumnya juga tiba pada bulan pertama atau kedua. Kapal-kapal itu senantiasa tinggal di Malayu sampai pertengahan musim panas, lalu mereka berlayar ke arah utara, dan mencapai Kanton dalam waktu 1 bulan.” — 685, I Tsing. 

“Selamat! Tahun Śaka telah lewat 604, pada hari ke 11 paro-terang bulan Waiśakha (23 April 682) Dapunta Hiyang naik di sampan mengambil siddhayātra.

Di hari ke 7 paro-terang bulan Jyestha (19 Mei), Dapunta Hyang ‘marlapas’ dari Minanga, tambahan membawa bala tentara dua laksa (2000 orang) dengan perbekalan 200 cara (peti) di sampan, dengan berjalan 1312 banyaknya, datang di Mata Jap (Mukha Upang) dengan sukacita. 

Di hari ke 5 paro-terang bulan Asada (16 Juni), lega gembira datang membuat wanua Śriwijaya jaya, siddhayātra sempurna….” — Prasasti Kedukan Bukit.



Catatan perjalanan I-Tsing ini menjadi salah satu petunjuk akan keberadaan kerajaan di Pulau Sumatera, selain adanya prasasti dan sejumlah peninggalan lainnya. Kesaksian I-Tsing telah pula mengilhami beberapa sejarawan, antropolog, sosiolog, pemerhati sejarah, penulis hingga pemerintah daerah mencari jejak-jejak keberadaan Kerajaan Melayu, Sriwijaya dan Tulang Bawang yang diperkirakan ketiga kerajaan ini pusat pemerintahannya berada di wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) sekarang.

I-Tsing, salah satu dari tiga penjelajah yang terkenal dari Cina. Kedua pendahulunya, Fa-Hsien (Fa-Hien) dan Hsuan-Tsang. Fa-Hsien, biarawan Cina yang pertama kali melakukan perjalanan ziarah ke India. Dia tinggal di sana selama 15 tahun semenjak 399 hingga 414. Sementara, Hsuan-Tsang tinggal di India selama 17 tahun sejak 629 hingga 645.I-Tsing berusia kira-kira sepuluh tahun ketika Yuan Chwang kembali ke Cina. Ketika itu, ia sudah bertekad untuk menjadi bhiksu di waktu yang akan datang. 

I-Tsing memasuki Sangha usia empat belas tahun. Di tahun 671 Masehi saat berusia tiga puluh dia mulai berkelana. Ia mengembara selama dua puluh lima tahun sampai tahun 695 Masehi. Lebih dari tiga puluh negara sudah dijelajahinya. Setelah kembali ke Cina tahun 695 Masehi, dia telah berhasil menerjemahkan lebih dari 56 buku. Dari tahun 700 sampai 712 Masehi, sebanyak 400 judul buku dibawanya pulang. I-Tsing meninggal dunia tahun 713 Masehi dalam usia 79 tahun.

Sejak usia remaja, I-Tsing memang sudah berangan-angan untuk berziarah ke India. Keinginannya terwujud ketika dia berusia 37 tahun. Saat berumur 37 tahun, I-Tsing berlayar dari Cina tahun 671 dan mendarat di Fo-Shih. Ia tinggal selama 6 bulan untuk belajar Sabdavidya (tata bahasa Sanskerta). Kemudian, ia pergi ke Mo-lo-yeu, yang disebutnya Shih-li-Fo-Shih dan tinggal di sana selama dua bulan. Awal tahun 672, melalui Ka-cha (Kedah) I-Tsing berangkat ke India dan tinggal di Nalanda selama 10 tahun.

Tahun 689, dikisahkan I-Tsing sempat pulang ke Kanton. Kepulangannya seperti tidak sengaja. Alkisah, dia naik ke kapal dengan maksud menitipkan surat ke Cina. Isi suratnya minta dikirimi kue-kue, kertas dan tinta untuk melanjutkan penerjemahan. Namun saat itu datang angin yang bagus untuk berlayar. I-Tsing pun akhirnya terbawa pulang. “Layar-layar dikembangkan setinggi-tingginya. Dengan cara itulah aku terbawa walaupun tidak berniat pulang. Bahkan, kalaupun aku meminta kapal berhenti, tak akan dikabulkan,” tulis I-Tsing dalam catatannya.

Tahun yang sama, ia kembali lagi ke Sriwijaya. Kedatangannya ke sini lagi untuk melanjutkan pekerjaannya. Tahun 692, dia mengirimkan ke Cina beberapa naskah salinan dan catatan perjalanannya. I-Tsing kembali ke Cina tahun 695 dan disambut ratu Cina. Ratu yang dimaksud mungkin Ratu Wu (690–705). Sang Ratu sempat memproklamasikan diri sebagai Dinasti Zhou di sela-sela kekuasaan Dinasti Tang. Salah satu bundel catatan perjalanan I-Tsing diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh J. Takakusu tahun 1896. 

Selain menceritakan kerajaan-kerajaan itu, I-Tsing didalam beritanya menyebutkan adanya Kerajaan Tola P’o-Hwang (Tulang Bawang). Dia menggambarkan sedikit kehidupan masyarakat di Tulang Bawang. Catatan Cina kuno lain juga menyebutkan, pertengahan abad ke 4 Masehi seorang penziarah agama Budha bernama Fa-Hien (337–422) pernah pula melawat ke Sumatera. Saat Fa-Hien berlayar ke India dan Srilangka, dia terdampar dan singgah di sebuah kerajaan bernama To-Lang P'o-Hwang (Tulang Bawang), tepatnya di pedalaman Chrise (Sumatera).

Selain itu, Fa-Hien (Fa-Hsien) menyebut-nyebut Yeh-po-ti, kota yang terpaksa disinggahinya karena kapal yang ditumpanginya terserang badai. Dalam kesaksiannya, Fa-Hien mengatakan di sini masyarakatnya penganut Hindu. Dalam catatannya, Fa-Hien hanya menuliskan Yeh-po-ti satu kali saja, tanpa diulas lebih lanjut. Dari catatan kecil ini, dapat disimpulkan ekspedisi Cina jarang mendatangi lokasi tersebut. Yeh-po-ti kemudian ditransliterasikan jadi Seputih, yang posisi geografisnya persis berada di Lampung sekarang. Dari sejumlah temuan di sekitar lokasi, terutama Seputih memang terdapat tanda-tanda peradaban. Keterangan Fa-Hien didukung dengan adanya situs peninggalan di sekitar Way Seputih, Lampung.

Berdasarkan catatan dari I-Tsing di pedalaman Chrise, meski di tempat itu kehidupan sehari-hari penduduknya masih bersifat tradisional, tetapi mereka sudah bisa membuat kerajinan tangan dari logam besi yang dikerjakan pandai besi. Warganya, ada pula yang dapat membuat gula Aren yang bahannya dari pohon Aren. 

Sewaktu I-Tsing datang melawat dan singgah melihat daerah Selapon, dalam catatannya dia menyebut nama Tola P’o-Hwang. Sebutan Tola P’o-Hwang dari ejaan Sela-pon. Sedangkan untuk mengejanya, kata Selapon dilidahnya berbunyi So-la-po-un. Berhubung orang Tionghoa itu berasal dari Ke’, seorang pendatang negeri Cina yang asalnya dari Tartar, lidahnya tidak dapat menyebutkan sebutan so. I-Tsing mengejanya dengan sebutan to. Sehingga kata Selapon/Solapun disebutnya To-La P’o-Hwang.

Didalam buku kenangannya I-Tsing (I Ching) juga menceritakan, sang peziarah Hui Ning memutuskan perjalanannya selama tiga tahun di Pulau Jawa (664/5–667/8). Lawatannya untuk menterjemahkan sebuah sutra. Kemungkinan besar dari mazhab Hinayana, mengenai Nirwana yang agung. Proses penterjemahannya dibantu seorang pakar Jawa bernama Jñânabhadra. Sedangkan, I-Tsing sendiri menghargai pusat-pusat studi agama Budha di Sumatera. Hal ini terbukti dari fakta ia tinggal selama enam bulan di Sriwijaya. Kemudian, tinggal dua bulan di Melayu (Jambi) dalam perjalanannya ke India tahun 671. Setelahnya, selama sepuluh tahun dia berdiam di Sriwijaya antara tahun 685–695.

Selain itu, ia meringkaskan bahwa agama Budha dipeluk di negeri-negeri yang dikunjunginya. Sebagian besar negeri itu menganut mazhab Hinayanalah, kecuali di Melayu ada pula beberapa penganut Mahayana. I Ching atau lebih dikenal dengan nama I-Tsing, menerjemahkan sekitar 60 sutra (teks agama Budha) ke dalam bahasa Tionghoa, termasuk Saravanabhava Vinaya Avadana, (Kisah-kisah Kebajikan) tahun 710 dan Suvarnaprabha scottamaraja-sutra (Sutra Raja yang Paling Dimuliakan) tahun 703.

Buku I-Tsing dengan judul “A Record of The Buddhist Religion as Practised In India And The Malay Archipelago” telah dialihbahasakan ke bahasa Inggris oleh seorang ilmuwan Jepang bernama I. Takakusu. Buku lain dengan judul “Memoirs On The Eminent Monk Who Went In Searc Of The Law In The Western Countries” sudah dialihbahasakan ke bahasa Perancis oleh Chavannes. Dari sini, didapat gambaran jelas tentang ketulusan dan pengabdian dari para bhiksu. Jumlahnya lebih besar daripada yang dikira. Mereka gigih dan gagah berani menghadapi berbagai macam bahaya selama dalam pengembaraannya.

Karya I-tsing memberikan informasi berharga mengenai keadaan Kerajaan Tulang Bawang. Apalagi dia lama berdiam di Sriwijaya, sudah tentu keterangannya bisa dipercaya. Dirinya menyaksikan keadaan kerajaan ini dengan mata kepalanya sendiri. Uraian-uraiannya, sumber berita dari tangan pertama. Karenanya, banyak ahli sejarah menyatakan pernyataan I-Tsing dianggap keterangan yang tidak meragukan. Hanya saja, penulisan sebagian besar nama tempat yang disinggahi maupun yang didiaminya tidak sebagaimana aslinya. Sehingga perlu dicocokkan dengan nama yang ada sebelumnya dengan masa kemudiannya sampai sekarang.

Berita dari Cina ini dapat menjadi petunjuk akan keberadaan Kerajaan Tulang Bawang, termasuk agama yang dianut warga di sini waktu itu. Bahkan, I-Tsing memberi sedikit gambaran mengenai kehidupan warga Tulang Bawang. Namun sayangnya, tidak ada bukti lebih rinci dari berita-berita Cina mengenai raja yang memerintah dan letak persisnya pusat kerajaan tersebut.

Dalam kronik Tai-ping-huan-yu-chi dari abad ke 5 Masehi, disebutkan nama-nama negeri di kawasan Nan-hai (“Laut Selatan”), antara lain dua buah negeri yang disebutkan berurutan, To-lang dan Po-hwang. Negeri To-lang hanya disebut satu kali. Tetapi negeri Po-hwang cukup banyak disebut. Sebab, negeri ini mengirimkan utusan ke negeri Cina tahun 442, 449, 451, 459, 464 dan 466. Prof. Gabriel Ferrand, pada tulisannya dalam majalah ilmiah Journal Asiatique, Paris, 1918, hal. 477 berpendapat, kedua nama itu mungkin hanya satu nama, To-lang-po-hwang. Negeri itu dilokasikan Ferrand di daerah Tulang Bawang.

Prof. Purbatjaraka, dalam bukunya “Riwajat Indonesia I”, Jajasan Pembangunan, Djakarta, 1952, hal. 25, menyetujui kemungkinan adanya Kerajaan Tulang Bawang. Meskipun diingatkannya, anggapan tersebut semata-mata karena menyatukan dua toponimi dalam kronik Cina. Karena belum ditemukannya data arkeologis yang membuktikan pusat pemerintahan kerajaan ini.

Sementara itu, tentang Yeh-po-ti hanya tercatat dalam uraian perjalanan Pendeta Fa-Hsien tahun 414 berjudul “Fo-kuo-chi” (Catatan Negeri-negeri Budha). Prof. Paul Wheatley, dalam bukunya “The Golden Khersonese”, University of Malaya Press, Kuala Lumpur, 1961, hal. 37-38, merangkum uraian tentang negeri Yeh-po-ti sebagai berikut: “Dalam perjalanan pulang dari India ke Cina kapal yang ditumpangi Fa-Hsien terserang badai sehingga terpaksa berlabuh di negeri Yeh-po-ti di kawasan laut selatan. Di Yeh-po-ti berkembang agama Hindu, sedangkan agama Budha dalam kondisi yang tidak memuaskan. Sesudah tinggal di Yeh-po-ti selama lima bulan, Fa-Hsien berangkat ke Cina dengan menumpang kapal dagang yang lain. Berlayar ke arah timur laut dan mencapai Kanton dalam waktu sebulan.”

Identifikasi para ilmuwan tentang negeri Yeh-po-ti juga masih terdapat perbedaan. Tahun 1876, W.P. Groeneveldt (op.cit. hal 6-7) beranggapan, nama Yeh-po-ti transliterasi dari nama Yawadwipa (Pulau Jawa). Pendapat ini sempat diikuti banyak ahli sejarah. Tetapi, Prof. Paul Wheatley dan Prof. Oliver Wolters menyangsikan identifikasi tersebut. Sebab, nama “Jawa” biasa ditransliterasikan She-po dalam kronik-kronik Cina. Seandainya nama Yeh-po-ti menyatakan Jawa, tentu nama itu banyak dijumpai.

Kenyataannya, nama Yeh-po-ti hanya ada didalam kisah pelayaran Fa-Hsien. Nama tersebut tidak pernah disebutkan dalam kronik-kronik Cina lainnya. Termasuk yang pernah I-Tsing catat setelah perjalanan Fa-Hsien. Berarti, negeri Yeh-po-ti yang disebutkannya jarang dikunjungi musafir atau kapal Cina. Karena bukan jalur pelayaran yang umum dilakukan para pengelana maupun pedagang.

Wheatley dan Wolters berpendapat, Yeh-po-ti negeri kecil yang terletak di pantai timur Sumatera bagian selatan. Berarti, negeri itu bukan berada di Pulau Jawa atau belahan wilayah lainnya di Indonesia. Tapi, mereka tidak berusaha mencari di mana lokasinya. Namun menurutnya, tidak tertutup kemungkinan nama Yeh-po-ti transliterasi dari nama “Seputih”, daerah pantai timur Lampung.

Data-data arkeologi membuktikan, daerah Seputih pernah berkembang zaman purba. Di daerah Pugung Raharjo, daerah Seputih, telah ditemukan lingga dan arca Hindu yang besar. Demikian pula di daerah Gunung Sugih, Kabupaten Lampung Tengah sekarang di tepi Way Seputih, ditemukan patung seorang dewi Hindu (Lihat: “Hasil Survey Kepurbakalaan di Daerah Lampung”, Berita Penelitian Arkeologi, No. 2”, Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional, Jakarta, 1976).

Hal ini membuktikan, di Seputih pernah berkembang agama Hindu. Lagi pula, arah pelayaran dari pantai timur Lampung menuju Kanton memang ke arah timur laut. Berlayar ke sana diperkirakan memakan waktu sebulan. Jadi, identifikasi Yeh-po-ti dengan Seputih, selain berdasarkan kemiripan bunyi, diduga juga cocok sekali dengan uraian-uraian Fa-Hsien. 

Akhir abad ke 7 Masehi, negeri Seputih ditaklukkan Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang sekarang. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya prasasti Sriwijaya di Palas Pasemah. Letaknya di sebelah selatan Way Seputih dekat Kalianda. Prasasti ini, terdiri dari 13 baris dan telah dibahas Prof. Buchari dari Universitas Indonesia pada tulisannya, “An Old Malay Inscription of Srivijaya at Palas Pasemah (South Lampung)”, dalam buku “Kumpulan Makalah Pra Seminar Penelitian Sriwijaya”, Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional, Jakarta, 1979, hal. 19–40.

Prasasti Palas Pasemah salah satu “prasasti persumpahan”. Isinya ancaman bagi mereka yang tidak mau berbakti kepada raja Sriwijaya. Sampai kini prasasti-prasasti persumpahan, diantaranya telah ditemukan di Telaga Batu (Palembang), Kota Kapur (Bangka), Karang Berahi (Jambi) dan Palas Pasemah (Lampung). Hanya satu yang bertarikh, yaitu Prasasti Kota Kapur, tanggal 1 Waisaka 608 Saka atau tanggal 28 Februari 686. Tetapi karena isinya persis sama, para ahli sejarah sepakat prasasti-prasasti persumpahan itu dibuat di masa dan dengan tujuan yang sama pula.

(Dikutif dari buku dan eBook Akhmad Sadad, "Kerajaan Tulang Bawang, Rangkaian Sejarah yang Hilang", Bandar Lampung, 2014). Dilarang mengutif selain menyebutkan sumber tulisan ini.
Share on Google Plus

About Unknown

9 komentar:


  1. 1Untuk Menikmati Permainan Poker Online seperti Asli hanya bersama kami di KEBUNPOKER.COM..
    100 % menggunakan Uang Asli
    100% Tanpa BOOT!!
    100% Player VS Player
    1000 % Berapapun Kemenangan Anda Semua PASTI Akan Kami Bayar...
    Di dukung oleh Server Terbaik Untuk Mendukung Kelancaran Permainan,,,SUDAH TERBUKTI !!!!
    PENDAFTARAN >> http://kebunpkr99.pkr69.com/

    ReplyDelete
  2. Tolong perhatikan SEJARAH ADALAH FAKTA N DATA2 VALID N RASIONAL bahwa prasasti hujung langit adalah perdikan/sema yg tahun nya sama nama raja sama =sri dewa adanya penulisan hari adalah wajar sri hari dewa identik dg sri dewa n semua ahli menyatakan prasasti sriwijaya n kalian meng ada2 dg kerajaan antah berantah skala beghak kalingga empu sendok yg jauh dari tulisan n yg harus ditafsirkan hal ini bisa membuat murid sma n rakyat gila n siapa bertanggung jawab?

    ReplyDelete
  3. Kan ta li dialek china untuk ken da ri itu sebutan dermaga contoh diaceh n sulawesi selatan tidak ada hubungannya dg belalau skala beghak n kenali di liwa n kenapa kalian ambisi memelintir sejarah n dari data diatas bahwa kendari/kantoli itu yeh po tih/san po tsih itu kerajaan seputih gunung sugih yg saat itu kaisarnya raja diraja patani mencakup champa malik=ali nurul alam itu orang gunung sugih bandar surabaya lampung tengah th 1462 ini fakta bukan khayalan

    ReplyDelete
  4. Kan tali/kendari=pelabuhan bongkar muat oleh orang champa pd kerajaan seputih pd pantai lampung timur tembus way seputih gunung sugih=kita buktikan?oke

    ReplyDelete
  5. Data anda menyatakan tidak ada berita n catatan china pd chroniclenya tentang kerajaan tulang bawang n yang ada utusan bernama TOLANG PO HYANG(HWANG) jadi batasi pemikiran yg bebas tanpa biaya n apalagi tentang apa yg kalian adakan ttg kerajaan skala beghak abad ke 5 ini betul2 ngelindur n tolong sadari

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tulang bawang beneran ada pendiri kerajaan Dompu NTB itu pangeran dari kerajaan tulang bawang

      Delete
  6. Ingatlah=kan toli/kendari tidak ada hubungan dg kenali liwa belalau n skala beghak;jangan main sadap n yg ada kendal jawa tengah kendal champa vietnam n kendal bukit saguntang sumsel ; sadarlah

    ReplyDelete
  7. Instagram=the culture emirate of lampung

    ReplyDelete
  8. Baca dg teliti jangan mempunyai motivasi yg tidak mungkin=prasati hujung langit/hara kuning menerangkan tanah perdikan/sema=bebas pajak tidak bayar pajak n raja sriwijaya mereka sri hari dewa/sri dewa=mohon teliti n jernih n jgn dg nafsu n motivasi

    ReplyDelete